Thursday, 10 October 2013

Nuzul Qur'an


BAB I
PENDAHULUAN


                  Al-Qur’an adalah merupakan salah satu kitab Allah SWT  yang empat yang terakhir diturunkan, dan diturunkan kepada Nabi Muhammad SWT sebagai pedoman untuk seluruh manusia. Al-Qur’an berfungsi sebagai petunjuk bagi manusia, dan untuk sebagai pegangan bagi seluruh manusia, selama manusia berpegang kepada Al-Qur’an mereka akan selamat mengarungi bahtera kehidupan diatas dunia ini dan bahkan akan menemui Allah dalam keadaan sejah tera, dengan artian mereka akan selamat dunia dan akhirat.
            Al-Qur’an diturunkan kepada Nabi Muhammad melalui proses yang cukup lama, yaitu sekitar 23 tahun dan turunnya secara berangsur-angsur, sesui dengan keadaan umat pada waktu itu. Peristiwa bagimana turunnya Al-Qur’an,apa hikmah turunnya secara berangansur-angsur, serta apa hikmah dari pengulangan ayat dalam Al-Qur’an yang akan penulis tuangkan kedalam sebuah makalah yang berjudul NUZUL-QUR’AN. Untuk itu mudah-mudahan makalah ini bermanfaat untuk kita bersama dan untuk penulis sendiri, dan penulis dengan rendah hati menerima kritik dan saran yang bersifat untuk memberikan kemajuan untuk penulis makalah ini.












BAB II
PEMBAHASAN
SEJARAH TURUNNYA AL-QUR’AN

  1. Pengertian Nuzul Al-Qur’an
                  Untuk menjelaskan penurunan Al-Qur’an, biasanya diistilahkan dengan nuzul qur’an merupakan dua kata yang tidak bisa dipisahkan. Nuzul berasal dari kata Nazala yang artinya turun atau tergelincir.[1] Nuzul bentuk masdar dari nazala-yanzilu yang artinya bertempat atau berdiam disuatu tempat. Juga dapat diartikan berpindah dari atas kebawah.[2]
Secara literal, kata nuzul berarti” tiba ditempat dari ketinggian”, dan kata ketinggian itu menunjuk kepada tempat.[3] Bila dikaitkan dengan proses penurunan Qur’an, pemaknaan secara harfiah ini dinilai kurang tepat, sebab akan membawa satu kesan bahwa Allah terikat dari satu arah dan tempat tertentu. Oleh karena itu para ulama seperti al-Zarqani mentakwilkan kata nuzul ini dengan I’lham (pemberitahuan). Para peneliti berselisih pendapat masalah asal kata Al-qur’an, setelah itu para peneliti menemukan titik temunya (bersepakat) tentang asal dari kata Al-Qur’an adalah bentuk masdar yang berasal dari akar kata Qara’a yang berarti bacaan, kemudian dimaknakan sebagai isim maful.[4] Jadi secara etimologisnya al-qur’an adalah kalam Allah yang mu’jiz, yang diturunkan kepada Nabi SAW, yang ditulis dalam mushaf, yang diriwayatkan darinya secara mutawatir dan dinilai sebagai ibadah dalam membacanya.[5]
Bertitik tolak dari pengertian nuzul dan qur’an diatas maka dapat diambil pengertian secara etimologis bahwa nuzul qur’an adalah turunnya ayat-ayat Al-Qur’an dari pada Allah SWT kepada Nabi Muhammad SAW secara berangsur-angsur (tadarruj) dalam masa lebih kurang 23 tahun, dengan tujuan al-Qur,an diturunkan untuk memperbaiki aqidah manusia yang melampaui batas kemanusian, ibadah manusia, akhlak dan pergaulan manusia yang sudah menyimpang jauh dari kebenaran. Oleh karena itu dapat dikatakan bahwa terjadinya penyimpangan dan kerusakan dalam tata kehidupan manusia menjadi sebab turunnya ayat-ayat Al-Quran’.
Diantara ayat-ayat Al-Qur’an yang menjelaskan turunya Al-Qur’an adalah sebagai berikut:
1. Seperti firman Allah yang terdapat dalam surat Fushilat yaitu:

          تَنزِيلٌ مِّنَ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

  Artinya: Diturunkan dari Tuhan yang maha pemurah lagi maha penyayang (Q.S.Fushilat: 2).

2. Dan seperti firman Allah SWT yang terdapat dalam surat Al-Israq ayat 106 yaitu:

                        وَقُرْآناً فَرَقْنَاهُ لِتَقْرَأَهُ عَلَى النَّاسِ عَلَى مُكْثٍ وَنَزَّلْنَاهُ تَنزِيلاً

Artinya: Dan Al-Qur’an itu telah kami turunkan dengan berangsur-angsur agar kamu membacakannya perlahan-lahan kepada manusaia dan kami menurungkannya bagian demi bagian (Q.S. Al-Israq: 106).

3.  Dan seperti firnan Allah SWT dalam surat Thaha ayat 2 yaitu:

                مَا أَنزَلْنَا عَلَيْكَ الْقُرْآنَ لِتَشْقَى

Artinya: kami tidak menurunkan Al-Qur’an ini kepadamu supaya kamu menjadi susah (Q,S. Thaha:n: 2)

            Dari beberapa ayat diatas maka dapat penulis simpulkan bahwa ayat diatas menggunakan kata-kata nazzala, anzala dan tanzila menunjuk kan bahwa Al-Qur’an itu diturunkan oleh Allah SWT bukan kehendak siapa-siapa melainkan kehendak Allah SWT itu sendiri. Dan dari ayat diatas dapat pula penulis pahami bahwa Al-Qur’an diturunkan secara berangsur-angsur dan mempunyai ayat-ayat yang banyak bisa dipahami tanpa penafsiran dan ada butuh penafsiran.

  1. Tahapan Dan Cara Penurunan Al-Qur’an
                              Sebagaimana diketahui bahwa Al-Qur’an diturunkan kepada Nabi Muhammad melalui malaikat Jibril, dengan berbahasa arab, yang telah dibukukan dan merupakan satu ibadah untuk membacanya. Dalam hal ini, mula-mula karena sifat kasih sayangnya Alalh memformolasikan kalam nafsi-Nya menjadi kalam lafzi, dan menempatkanya di lauh mahfuzh (Q.S al-Buruj: 22). Setelah itu Allah SWT, mewahyukan kepada Jibril dan sampailaah Al-qur,an itu di bait Al-‘izzah (langit dunia). Penurunan Al-Qur’an di bait al-‘izzah ini terjadi sekaligus, yaitu pada malam qadar (lailah al-qadr). Kemudian, barulah Jibril menurunkannya kepada Nabi Muhammad SAW didunia. Secara berangsur-angsur dalam masa 23 tahun: 13 tahun periode Makah, dan 10 tahun periode Madinah[6]
                              Dari keterangan diatas maka dapat penulis ambil kesimpulan bahwa Al-Qur’an itu diturunkan melalui tiga tahap yang pertama adalah dengan kasih sayang Alalh SWT maka ia mempormelasikan kalan nafsi menjadi kalam lafzi yang tertulis didalam Lauh Mahfuz. Yang kedua malaikat Jibril membawa turun Al-Qur’an kelangit pertama dengan sekaligus. Setelah itu baru disampaikan kepada Nabi Muhammad secara berangsur-angsur, sesuai dengan kondisi umat pada waktu itu.
                              Adapun menurut  Manan Khalil al-Katan dalam bukunya ‘Ulumul Qur’an bahwa tahapan turunnya Al-Qur’an dapat dirincikan sebagai berikut:
  1. Al-Qur’an diturunkan oleh Allah SWT secara sekaligus ke lauh Mahfuzh seperti yang diterangkan oleh Allah dalam firmannya surat Al-Buruj ayat 21-22 yaitu:

                                                                              . فِي لَوْحٍ مَّحْفُوظٍ . بَلْ هُوَ قُرْآنٌ مَّجِيدٌ

   Artinya: Bahkan yang didustakan mereka itu adalah Al-Qur’an yang mulia, Yang tesimpan dalam Lauh Mahfuzh (Q.S. Al-Buruj: 21-22).
           

            Mengenai kapan waktunya Allah SWT menurunkan Al-Qur’an yang mulia Ke Lauh Mahfuzh bagaimana ujud dan caranya. Kita kembali saja maksudnya kepada Allah yang maha mengetahui segala urusan yang akan dilaksanakanya, tetapi kita dituntut untuk meyakini memang hal itu terjadi. Karema Allah telah jelas-jelas memberikan penjelasan lewat Al-Qur’an diatas, yang menjadi satu kitab pegangan untuk orang mukmin dalam menempuh bahtera kehidupan diatas dunia yang pana ini.
2.  Al-Qur’an diturunkan dari Lawh Mahfuzh ke Bait al-Izzah di langit dunia, yang menjadi alasannya diturunkan sekaligus adalah. Sebagaimana firman Allah dalam surat Al-Baqarah ayat 185 yaitu:

                                                             إِنَّا أَنزَلْنَاهُ فِي لَيْلَةٍ مُّبَارَكَةٍ إِنَّا كُنَّا مُنذِرِينَ
                     
                                                                        إِنَّا أَنزَلْنَاهُ فِي لَيْلَةِ الْقَدْرِ

                                           شَهْرُ رَمَضَانَ الَّذِيَ أُنزِلَ فِيهِ الْقُرْآنُ هُدًى لِّلنَّاسِ   

            Ketiga ayat diatas menyatakan bahwa Al-Qur’an diturunkan pada suatu malam yang dinyatakan dengan malam mubarakah serta dinamai dengan lailatul qadar yaitu suatu malam pada bulan Ramadhan. Jadi ketiga ayat diatas tidaklah saling bertentangan antara satu dengan yang lainnya, akan tetapi sebaliknya ketiga ayat tersebut saling berkaitan satu samalainnya. hanya saja yang saling bertentangan antara zahir ayat dengan kejadian yang dialami oleh Rasulallah SAW sendiri, dimana Al-Qur’an turun kepadanya selama dua puluh tiga tahun.
            Terhadap permasalahan ini terjadi perbedaan pendapat  para ‘Ulama yaitu:
a.       Pendapat yang dikemukakan oleh Ibnu Abas dan Jamhur ‘Ulama. [7]yang dimaksud dengan turunnya al-Qur’an dalam ketiga ayat diatas turunya al-Qur’an sekaligus ke Bait al-‘Izah dilangit dunia pada malam qadr agar para Malaikat menghormati kebesarannya, setelah itu Al-Qur’an diturunkan kepada Rasulallah SAW secara tanjim  ( berangsur-ansur) selam lebih kurang 23 tahun sesuai denga peristiwa dan kejadian –kejadian sejak dia diutus sampai wafat..[8] Hal ini berdasarkan hadist Nabi SAW yang diriwayatkan oleh an-Nasa’I al-Hakim dan al-Baihaqi yaitu:


“ Al-Qur’an diturunkan secara keseluruhan kelangit dunia pada malam Qadr dan diturunkan (kepada Rasulallah SAW)  selam 20 tahun , kemudian Rasulullah SAW membaca surat Al-Furqan ayat 33 dan surat Al-Isra’ ayat 106”

b.      Yang dimaksud dengan turunnya Al-Qur’an dalam ketiga ayat diatas adalah permulaan turunya Al-Qur’an kepada Rasulalh SAW. Permulaan turunnya Al-Qur’an itu dimulai pada malam lailatul qadr dimalam Ramadhan yang merupakan malam yang diberkahi. Kemudian turunnya itu berlanjut sesudah itu secara bertahap-tahap sesuai dengan kejadian dan peristiwa-peristiwa selama kurang lebih 23 tahun. Yang menjadi dasarnya adalah surat al-Israq ayat 106 yaitu:
              
                            
 
         Artinya: “Dan Al-Qur’an itu telah kami turunkan dengan berangsur-angsur agar kamu membacakannya perlahan-lahan kepada manusia dan Kami menurunnya bagian demi bagian”.

 c. Yang dimaksud dengan tiga ayat diatas adalah bahwa Al-Qur’an diturunkan ke Bait al-Izzah setiap tahun pada malam qadr, yaitu lebih kurang 23 kali malam Qadr. Dimana setiap malam Qadr Allah menurunkan al-Qur’an berdasarkan keperluan untuk selama satu tahun setelah itu baru diturunkan kepada Rasulallah secara berangsur-ansur.
                        Dari ketiga permasalahan diatas, maka yang lebih kuat dan dapat diperca (kebenarannya) adalah pendapat yang pertama. Karena dengan berangsur-angsunya Al-Qur’an diturunkan dapat menguatkan dan menenteramkan hati kaum muslimin dan sebagai bukti bahwa Al-Qur’an tersebut berasal dari Allah SWT.          

3. Taurunnya Al-Qur’an dari Bait al- Izzah kepada Rasulalla SAW.
Proses turunnya Al-Qur’an dari Bait al Izzah kepada Rasulallah      adalah melalui perentaraan Malaikat Jibril secara tanjim (berangsur-angsur) setelah itu diturunkan dalam masa lebih kurang 23 tahun. Adapun yang menjadi dalil dalam hal ini, yaitu firman Allah dalam Surat Al- Syu’ara ayat 192 -195 yaitu:
                                     ... نَزَلَ بِهِ الرُّوحُ الْأَمِينُ  وَإِنَّهُ لَتَنزِيلُ رَبِّ الْعَالَمِينَ
Artinya: Sesungguhnya Al-Qur’an itu benar-benar diturunkan oleh Tuhan semesta alam. Dia dibawa turun leh ruh al-Amin (jibril) (Q.S. Al-Syu’ara192-193)                
Tentang bagai mana malaikat Jibril memperoleh wahyu Al-Qur’an, hal ini merupakan pertanyaan menyangkut perkara gaib. Boleh jadi Jibril menerimanya dari Allah melalui penerimaan secara kerohanian atau menghapalnya dari Lauh Mahfuzh atau boleh jadi Jibril menerimanya dari Allah melalui pendengaran.
Di samping itu para ulama berbeda pendapat pula tentang apa yang diturunkan Jibril kepada Rasulallah SAW, mengenai wahyu tersebut. Terdapat tiga versi Ulama dalam hal ini, yaitu:
                        Pertama: yang diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW adalah lafaz bersama makna ayat-ayat itu. Jibril terlebih dahulu menghapal Al-Qur’an yang hendak diturunkan yang tercantung di Lauh Mahfuzh. Kemudian setelah hapal dan paham maksudnya, ia kemudian menurunkan kepada Nabi Muhammad SAW.
                        Kedua: Jibril hanya menurunkan maknanya saja dan Nabi Muhammadlah yang kemudian mengungkapkan makna tersebutdengan bahasa arab. Alasannya  adalah firman Allah yang terdapat dalam surat Al-syu’ara ayat 193 yaitu:
                                                                                . نَزَلَ بِهِ الرُّوحُ الْأَمِينُ

Artinya: Dia dibawa turun oleh Ar-Ruh Al-Amin (Jibril) kedalam hatimu (Muhammad) agar kamu menjadi salah seorang diantarea orang-orang yang memberi peringatan (Q.S. Al- Syu’ara:193)
Ketiga: Jibril mendapatkan maknanya dari Lauh Mahfuzh kemudian dengan     bahasa arab dia salin makna itu kepada Nabi SAW.[9]
Sebenarnya, malaikat Jibril telah menyampaikan firman-firman Allah atau Al Qur’an kepada Nabi Muhammad dengan beberapa cara. Berikut ini adalah beberapa cara turunnya AlQur’an kepada Nabi Muhammad saw.
• Malaikat Jibril memasukkan wahyu itu ke dalam hati Nabi Muhammad saw. tanpa memperlihatkan wujud aslinya. Rasulullah tiba-tiba saja merasakan wahyu itu telah berada di dalam hatinya.
• Suatu ketika, malaikat Jibril juga pernah menampakkan dirinya sebagai seorang laki-laki dan mengucapkan kata-kata di hadapan Nabi saw. Itulah salah satu metode lain yang digun akan malaikat Jibril untuk menyampaikan Al Qur’ an kepada Nabi Muhammad saw.
• Yang selanjutnya, wahyu juga turun kepada Nabi Muhammad saw. seperti bunyi gemerincing lonceng. Menurut Rasulullah, cara inilah yang paling berat dirasakan, sampai-sampai beliau mencucurkan keringat meskipun wahyu itu turun di musim yang sangat dingin.
• Cara yang lain adalah malaikat Jibril turun membawa wahyu kepada Nabi Muhammad saw. dengan menampakkan wujudnya yang asli.

Rasulullah saw. senantiasa menghafalkan setiap wahyu yang diterimanya. Beliau mampu mengulangi wahyu tersebut dengan tepat, sesuai dengan apa yang telah disampai kan oleh malaikat Jibril. Dalam hal ini, malaikat Jibril juga berperan untuk mengontrol hafalan Al Qur’an Rasulullah saw. Al Qur’an diturunkan dalam dua periode. Periode pertama dinamakan Periode Mekah. Turunnya Al Qur’an pada periode pertama ini terjadi ketika Nabi saw. bermukim di Mekah (610 – 622 M) sampai Nabi Muhammad saw. melakukan hijrah. Ayat-ayat yang diturunkan pada masa itu, kemudian disebut dengan ayat-ayat Makiyah, yang berjumlah 4.726 ayat dan terdiri atas 89 surat. Periode yang kedua adalah Periode Madinah. Sebuah periode yang terjadi pada masa setelah Nabi Muhammad saw. hijrah ke Madinah (622 – 632 M). Ayat-ayat yang turun dalam periode ini kemudian dinamakan ayat-ayat Madaniyah, meliputi 1.510 ayat dan mencakup 25 surat.
  1. Ayat Pertama dan Terakhir Diturunkan
      1. Ayat yang pertama diturunkan
                  Dalam hal menentukan ayat yang mana terlebih dahulu diturunkan  kepada Rasulallah SAW, Terjadi perbedaan pendapat para ulama yaitu:
a.       Pendapat yang didasarkan pada hadist yang diriwayatkan al-Bukhari dan ‘Aisah  bahwa surat yang pertama kali turun kepada Rasulallah adah surat Iqra’ bismi rabbika.[10]
               Arti hadist-Nya adalah Awal pertama wahyu diturunkan kepada Rasulallah SAW merupakan mimpi yang benar waktu tidur. Di dalam mimpi itu beliau tidak melihat apapun melaikan datang kepada beliau seperti cahaya subuh. Kemudian timbullah keinginan beliau berkhalwat (menyendiri). Maka beliau pergi ke Gua Hera’ dan melakukan ibadah disana beberapa hari lamanya dan untuk itu beliau membawa bekal. Kemudian beliau kembali kerumah Khadijah, maka khadijah membekali beliau seperti semula sampai datangnya kepadanya hak (kebenaran) ketika beliau sedang berada di Gua Hira’, maka datang Jibril (malaikat) berkata; “Bacalah”! Aku (Muhammad) menjawab: Aku tidak pandai membaca”. Malaikat itu kemudian menarik dan memeluk aku erat-erat sehingga aku kepayahan. Kemudian malaikat melepaskan aku kemudian berkata lagi “Bacalah”! Aku menjawab”Aku tidak pandai membaca”. Malaikat kembali memelukku ketiga kalinya sampai aku kepayahan dn kemudian melepaskan aku kembali. Kemudian Malaikat berkatra : :Iqraq bismirabbika” sampai pada ayat “Ma lam ya’ lam”. Kemudian Rasulallah kembali ke Rumah Khadijah, dengan gemetar karena peristiwa yang baru dialaminya itu.
 
b.      Pendapat yang didasarkan kepada hadist yang diriwayat oleh al-Bukhari Muslim dari Jabir bin ‘Abdillah yakni ketika Jabir ditanya oleh ‘Abdurrahman, bahwa ayat yang pertama turun adalah surat al-Muddassir.
Arti hadisnya adalah ayat apakah yang pertama kali turun. Jabir menjawab, “Ya ayyuhal muddassira’. Aku (‘Abdurrahman) berkata,”Bukankah Iqra’ bismirabbikal lazi Khalak?”. Jabir menjawab, “ Aku menceritakan kepadamu apa yang diberitakan oleh Rasulallah SAW kepada kami.
Akan tetapi menurut analisa penulis bahwa yang ditanyakan oleh ‘Abdurrahman kepad Jabir itu adalah surat apakah yang pertama kali turun sesudah kekosongan wahyu? Dan jatwabannya memang surat Al-muddassir, sebab sesudah turun surat Al-Alaq maka wahyu berhenti turunnya beberapa hari.

c.          Pendapat yang didasarkan kepada hadist riwayat Abu Iskhaq dari Abu Maisarah, bahwa surat yang pertama turun adalah surat Al-Fatihah.
Arti hadistnya adalah “Ketika Rasulullah mendengar suara dia segera pergi dan menceritakan bahwa Malaikat telah turun kepadanya dan berkata: Bacalah wahai Muhammad (surat Al-Fatihah)

Dari ketiga pendapat tentang ayat yang pertama kali turun kepada Rasulallah diatas maka penulis menyimpulkan bawa ayat dalam surat Al-Alaq 1-5 itulah permulaan ayat diturunkan. Sedangkan ayat dalam surat Al-Mudassir adalah permulaan surat yang diturunkan sesudah Nabi menerima wahyu pertama, ketika beliau diselimuti Khadijah karena sangat takut meliahat Jibril diatas sebuah bukit. Adapun ayat dalam surat Al-Fatihah merupakan ayat yang pertama kali turun dalam sekaligus. Jadi menurut penulis bahwa ayat yang pertama kali turun adalah surat Al-Alaq dan ini merupakan pendapat yang terkuat dikalangan ‘Ulama Hadist dan Tafsir. Namun perlu ditegaskan bahwa Al-Qur’an tidak menyebut-nyebutkan soal mana ayat pertama turun. Namun menurut penulis uraian diatas berdasarkan fakta historis semata. Jadi, sebenarnya tidak terlalu perlu diberikan suatu penegasan yang kuat tentang mana diantara pendapat-pendapat di atas yang dipandang benar, dan tidak pula berarti bahwa pendapat selainnya adalah salah.                       





  1. Ayat yang terakhir diturunkan                       
Terjadi perbedaan pendapat tentang ayat yang terakhir diturunkan kepada Rasulallah SAW yaitu:
a. Berdasarkan riwayat Bukhari dan Ibn Abas ayat yang terakhir turun adalah ayat tentang Riba:

                              لرِّبَا إِن كُنتُم مُّؤْمِنِينَ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُواْ اتَّقُواْ اللّهَ وَذَرُواْ مَا بَقِيَ مِنَ
b. Berdasarkan riwayat Bukhari dan Muslim dari sahabat al-Barra’ bin ‘Azib yang mengatakan bahwa ayat yang terakhir turun adalah surat an-Nisa’ ayat 176 yaitu:[11]
                                                           .. ..  يَسْتَفْتُونَكَ قُلِ اللّهُ يُفْتِيكُمْ فِي الْكَلاَلَةِ
c. Menurut Ibnu Abbas ayat yang terakhir turun adalah surat Al-Baqarah ayat 281 yaitu:
                                                                                                                       ......وَاتَّقُواْ يَوْماً تُرْجَعُونَ فِيهِ إِلَى اللّهِ
d.      Berdasarkan hadis riwayat Muslim dari Ibn Abbas yang mengatakan bahwa  ayat yang terakhir turun adalah surat an-Nasr yaitu:

                                               . إِذَا جَاء نَصْرُ اللَّهِ وَالْفَتْحُ
e.    Ayat yang terakhir diturunkan adalah surat al-Maidah ayat 3 yaitu                       
          Dari beberapa pendapat tentang ayat yang terakhir diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW diatas maka dapat penulis simpulkan bahwa tidak ada kesepakatan ulama dalam menetapkan mana yang terakhir turun, karena alasan yang disampaikan oleh para ulama tidak ada yang diriwayatkan oleh Rasulullah. Boleh jadi pendapat para ulama lebih banyak dipengaruhi oleh ijitihad mereka masing-masing. Namun tidak berarti bahwa pendapat mereka itu salah. Jadi yang menjadi patokan bagi kita bahwa menentukan mana yang awal dan mana yang akhir turunnya, bukanlah satu keharusan mengetahuinya secara yakin.

  1.  Hikmah Diturunkannya Al-Qur’an secara Tanjim (Berangsur-angsur).
                              Sebagaiman yang telah disebutkan diatas, bahwa Al-Qur’an diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW secara bertahap atau Berangsur-angsur. Adapun hikmah yang terkandung didalamnya antara lain:.[12]
1.Untuk meneguhkan hati Nabi Muhammad SAW dalam melakukan tugas sucinya sekalipun menghadapi hambatan dan tantangan yang beraneka ragam. Sebagaiman firman Allah dalam surat Al-Furqan ayat 32-33 yaitu  
Artinya: Berkatalah orang-orang yang kafir; “ Mengapa Al-Qur’an itu tidak diturunkan kepadanya sekali turun saja?” demikianlah supaya kami perkuat hatimu dengannya…………..(Q.S. Al-Furqan. 32-33)

                        Dari ayat diatas dapat dipahami bahwa Al-Qur’an itu dapat diturunkan sekaligus, tetapi diturunkan secara berangsu-angsur agar dengan cara demikian hati Nabi Muhammad menjadi kuat dan tetap. Dan orang-orang kafir engkar, setiap kali mereka datang kepada Nabi Muhammad SAW membaw hal yang aneh berupa usul dan kecaman, Allah menolaknya dengan suatu hal yang aneh dan nyata.
2.  Supaya mudah dipahami dan dilaksanakan.
                  Nabi Muhammad SAW dan sebagian besar masyarakat waktu itu tidak bisa baca tulis (ummiy). Tetapi orang arab terkenal memiliki daya hafal yang kuat. Karena tidak mampu baca tulis itu, adalah sanggat sulit Al-Qur’an diturunkan sekaligus. Diturunkan Al-Qur’an secara berangsur-angsur akan memudahkan mereka untuk menghapalnya
3.  Menyesuaikan dengan kondisi dan kemampuan masyarakat menerimanya.
                  Yang ditanamkan terlebih dahulu adalah akidah tauhid bahwa tidak ada Tuhan melainkan Allah dan Muhammad adalah utusan Allah, serta adanya hari akhirat. Akidah itu akan menanamkan akhlak yang mulia. Itulah yang diperlukan pada priode Makah. Bila mereka waktu itu sudah diwajibkan mengerjakan ibadah sejara ketat tentu mereka akan menolak menerima Islam.
4.  Untuk beransur-ansur menetapkan dan memantapkan hukum
                  Hal ini sudah jelas bagi orang yang mengikuti sejarah hukum Islam di Zaman Nabi SAW, dan disinilah letak ciri khas syari’at Islam. Sebab, bangsa yang hendak diubah Nabi pada waktu itu, bukanlah bangsa yang lemah lembut, suka menerima pembaharuan, melainkan adalah bangsa yang keras kepala, dan telah mewarisi sifat menyembah berhala secara turun temurun dan telah mendarah daging. Bangsa itulah yang secara berangsur-angsur  hendak disirami jiwanya denga sinar Ilahi.
5.  untuk memudahkan menghapal Al-Qur’an
                  Dengan cara Al-Qur’an diturunkan secara berangsur-angsur sesuai dengan pemahaman yang dipahadapi, bagi umat Isalam pada masa Nabi dahulu memudahkan  menghapalnya, khusus bagi sahabat yang mengikuti dari dekat turunya ayat demi ayat.
6.  Sebagai koreksi terhadap kesalahan kesalahan aatau mengikuti peristiwa-peristiwa pada waktu terjadinya.
                  Kerap kali umat Islam menghadapi persoalan kemasyarakatan maupun   menjelaskan baagaimana jalan keluarnya. Ada pula wahyu yang diturunkan untuk mengoreksi kesalahan yang diperbuat sahabat dengan maksut agar hal serupa tidak terulang lagi dan akan menjadi pedoman bagi umat sepanjang masa.
  1. Sebagai bukti bahwa wahyu yang diucapkan oleh Nabi Muhammad SAW adalah berasal dari Allah SWT
Al-Qur’an yang kita baca dari awal sampai akhir adalah rangkaian perkataan yang tak mungkin diciptakan oleh manusia, termasuk Nabi Muhammad sendiri; juga oleh Jibrail dan makhluk apapun. Sebab begitu halus susunan kalimatnya, begitu indahh gaya bahasanya dan lain-lain.









BAB III
PENUTUP
KESIMPULAN

                        Nuzul Al-Qur’an merupakan proses penurunan Al-Qur’an dari Allah SWT kebada Nabi Muhammad SAW melalui perantaraan Malaikat Jibril. Turunya Al-Qur’an kepada Nabi Muhammad SAW melalui beberapa tahap, yaitu: pertama turunya Al-Qur’an ke Lauh Mahfuz, kedua turunnya dari Lauh Mahfuz ke Bait Al-Izzah di langit dunia, ketiga turunya dari Bait Al-Izzah kepada Nabi Muhammad SAW secara berangsur-angsur yang menempuh masa selama 23 tahun sepuluh tahun di Makah tiga belas Tahun di Madinah.
                        Ulama berbeda pendapat mengenai ayat yang pertama kali rurun kepada Nabi Muhammad SAW. Di antara pendapat mereka ada yang mengatakan bahwa yang pertama turun adalah lima ayat dari surat al-Alaq ada yang mengatakan beberapa ayat dari surat al-Mudassir dan ada yang berpendapat tujuh ayat dari surat al-Fatihah.
                        Ulama juga berbeda pendapat tentang ayat yang terakhir turun kepada Nabi Muhammad SAW. Ada yang berpendapat yang  terakhir turun adalah ayat 176 dalam surat An-Nisa’ dan ada yang berpendapat ayat 272 dalam surat Al-Baqarah, ada yang berpendapat ayat 1 dalam surat An-Nasr dan ada yang berpendapat ayat 3 dalam surat Al-Maidah dan ada yang berpendapat ayat 281 dalam surat Al-Baqarah.
                        Ada juga beberapa ayat Al-Qur’an yang turun kepada Nabi Muhammad SAW berulang kali, bisa jadi tujuannya untuk menyatakan keagungan ayat trsebut dan hal yang terkandung padanya, atau bisa jadi sebagai peringatan dan pengajaran karena perintah yang dikandung ayat tersebut sangat penting, juga dikhawatirkan jika satu kali turun saja kemungkinan Nabi lupa mengigatkannya.






DAFTAR PUSTAKA


Al-Athar Daud, Perspektif Baru Ilmu Al-Qur’an, Bandung: Pustaka HIdayah 1994
AM Rusdi, ‘Ulumul Al-Qur’an, Padang: IAIN-IB- Press 1978
AL-Saleh, Subhi, Mabahist Fi Ulumu Al-Qur’an, Bairut: Dar Al-‘Ilmu, 1988
Khalil Al-Qathan Manna, Mabahits Ilmu Al-Qur’an, Riyadh: Mansurat Al-Atsr Al-Hadist 1982
Khalil, Manna, Mabahits Fil Ulu Al-Qur’an, Riyadh: Al-Maktabah Al-Ma’rif 1973
Muhammad, Burhanuddin bin Abdillah Al-Zarkasyi, Al-Burhan Fil ‘Ulum Al-Qur’an, Bairud: Dar Al-Fikr 1980
Depertemen Agama, RI. Mukaddimah Al-Qur’an dan Tafsirnya, Jakarta: KDT 2009
Al-Suyuti, Jalaluddin Al-Safi’I Al-Itqan Fil ‘Ulumul Qur’an, Bairut: Muassasah Al-Kutub 1996




[1]. Daud al- Athar, Perspektif Baru Ilmu Al-Qur’an, (Bandung: Pustaka Hidayah, 1994), h. 111
[2] . Ibid. h. 111
[3]. Rusydi AM, Ulumul Al-Qur’an, (Padang: IAIN-IB- Press), 16-17
[4] . Subhi al- Shaleh, Mabahits Fi Ulu al-Qur’an, (Beirut: Dar al- ‘IIm, 1988), h. 19
[5] . Ibid. h. 19
[6] . Manna  Khalik al-Qathan, Mabahits ‘Ulumi al-Qur’an, (Riyadh: Mansurat al-Atsr al-hadits, t,t), h. 30
[7] . Mana’Khalil al-Qathan, Mabahits Fil ‘Ulum al-Qur’an (Riyadh: Al-Maktabah al- Ma’arif, 1973), h. 101
[8] . Ibid. h. 102
[9]. Burhanuddin Muhammad bin Abdullah al-Zarqasyi, Al-Burhan Fi ‘Ulum Al-Qur,an (Bairut: Dar al Fikr, 1980), jilid 1, h. 228
[10]. Depertemen Agama, RI, Mukadimah Al-Qur’an dan Tafsirnya, (Jakarta: KDT, 2009), h.211
[11]. Ibid. h. 140
[12]. Rusdi AM, Op. Cit. h. 18

Wednesday, 9 October 2013

PENDIDIKAN ISLAM PADA MASA KERAJAAN-KERAJAAN ISLAM


BAB I
PENDAHULUAN


Cikal bakal keberadaan Islam di nusantara telah dirintis pada abad ke-1 hingga ke-5 H atau ke-7 hingga ke-8 M. Pada periode ini para pedagang dan mubalig muslim, membentuk komunitas islam. Para mubalig mengajar dan memperkenalkan islam kepada penduduk setempat antara lain:
1.      Islam mengajarkan sesama manusia untuk saling menghormati dan tolong-menolong.
2.      Islam mengajarkan bahwa derajat manusia dihadapan Allah SWT adalah sama, kecuali takwanya.
3.      Islam mengajarkan bahwa Allah SWT adalah Tuhan Yang Maha Esa, Maha Pengasih, dan Penyayang. Dan melarang manusia saling berselisih, bermusuhan, merusak dan saling dengki.
4.      Islam mengajarkan agar manusia menyembah hanya kepada Allah SWT dan tidak menyekutukan-Nya serta senantiasa berbuat baik terhadap sesame manusia tanpa pilih kasih.
Agama Islam ini sangat menarik perhatian masyarakat Indonesia dengan pesat karena penuh dengan hikmah dan kedamaian. Setiap perilaku para pedagang dan mubalig yang ramah, jujur, dan dermawan menjadikan penduduk setempat merasa simpati dan tidak keberatan anak-anak mereka menikah dengan para saudagar tersebut. Dajwah dan pengaruh islam makin luas, baik di kalangan masyarakat biasa maupun bangsawan dan penguasa.





BAB II
PEMBAHASAN
PENDIDIKAN ISLAM PADA MASA KERAJAAN-KERAJAAN ISLAM
A.    PENDIDIKAN ISLAM PADA MASA KERAJAAN SAMUDERA PASAI
1.      Sejarah Munculnya Kerajaan Samudera Pasai
Kerajaan Samudra Pasai, merupakan kerajaan Islam pertama di Indonesia. Ia berdiri pada sekitar awal abad ke-13 M dengan rajanya yang pertama Al Malik Ibrahim bin Mahdum, yang kedua bernama Al Malik Al Shaleh dan yang terakhir Al Malik Sabar Syah (tahun 1444 M / abad ke-15 H). kerajaan ini terletak di pesisir timur laut Aceh yang sekarang dikenal dengan nama Kabupaten Lhokseumawe atau Aceh Utara. Untuk waktu yang lama, Pasai dianggap oleh kerajaan Islan di Nusantara sebagai pusat Islam.
Kemunculan Samudra Pasai sebagai Kerajaan Islam diperkirakan dimulai dari awal atau pertengahan abad ke-13, sebagai hasil dari proses islamisasi daerah-daerah pantai yang pernah disinggahi pedagang-pedagang muslim sejak abad ke-7 M. dugaan atas berdirinya Kerajaan Samudra Pasai pada abad ke-13 ini didukung oleh data-data sejarah yang kongkret, antara lain adalah nisan kubur dari Samudra Pasai di Gampong Samudra yang memuat nama Sultan Malik Al Saleh, yang berangka tahun 696 H / 1927 M.[1]
Pendapat bahwa Islam sudah berkenbang disana sejak awal abad ke -13 M, didukung oleh berita cina dan pendapat Ibnu Btutah, seorang pengembara terkenal asal Maroko, yang pada pertengahan abad ke -14 M (tahun 746 H / 1345 M) mengunjungi Samudra Pasai dalam perjalananya dari Delhi ke Cina. Ketika itu Samudra Pasai diperintah oleh Sultan Malik Al Zahir, putra Sultan Malik Al Shaleh. Malik Al Zahir dengan hangat menghibur Ibnu Batutah dan rombongan kawan-kawannya didalam kota berdinding kayu, yang terletak beberapa mil disebelah hulu sungai dari pemukiman pelabuhan. Menurut sumber-sumber Cina, pada awal tahun 1282 M kerajaan Samudra mengirim kepada Raja Cina duta-duta yang disebut dengan nama muslim yakni Husain dan Sulaiman.[2]
Setelah Sultan Al Malik Al Shaleh mangkat (698 / 1297), digantikan oleh putranya bernama Al Malik Al Zahir I yang memerintah tahun 1297-1326. raja ketiga adalah Al Malik Al Zahir II yang memerintah dari tahun 1326-1345 M.[3]
Kerajaan Samudra pasai mengalami kejayaannya pada masa pemerintahan Al Malik Al Zahir II. Setelah beliau wafat digantikan oleh putranya yang bernama Mansur Malik Al Zahir dan seterusnya secara turun menurun.
Kerajaan Samudra Pasai adalah sebuah kerajaan maritime. Dalam kehidupan perekonomiannya, kerajaan maritime ini tidak mempunyai basis agraris. Basis perekonomiannya adalah perdagangan dan pelayaran.
Kerajaan Islam Samudra Pasai berlangsung sekitar tiga abad (244 tahun), yakni dari tahun 1280-an sampai dengan 1524 M. Secara berturut-turut, kerajaan Samudra Pasai diperintah oleh raja-raja / siltan dengan nama-nama sebagai berikut: Sultan Malik Al Shaleh yang memerintah setelah beragama Islam sekitar tahun 1280-1297 M, Muhammad Malik Al Zahir (1297-1326 M), Muhammad Malik Al Zahir (1326-1345 M), Mansur Malik Al Zhir (1345-1346), Ahmad Malik Al Zahir (1346-1383 M), Zaenal Abidin Malik Al Zahir (1383-1405 M), Nahrasyah (1402-? M), Abu Zaid Malik Al Zahir (?-1455 M), Muhammad Malik Al Zahir (1455-1477 M), Zaenal Abidin (1477-1500 M), Abdulah Malik al Zahir (1501-1513 M), dan Zaenal Abidin (1513-1524 M).     



2.      Pola Pendidikan Islam Masa Kerajaan Samudera Pasai
a.       Metode awal penyiaran islam
Menurut Muhammad Yunus, rupanya oleh pedagang-pedagang Muslim dahulu dipegang teguh ajaran Islam itu, diturut dan diamalkan. Sambil berdagang, mereka menyiarkan agama Islam kepada orang-orang disekelilingnya. Dimana ada kesempatan, mereka berikan pendidikan dan ajaran agama Islam. Bukan saja dengan perkataan, melainkan juga dengan perbuatan.
            Didikan dan ajaran Islam mereka berikan dengan perbuatan, dengan contoh dan suri tauladan. Mereka berlaku sopan santun, ramah tamah, tulus ikhlas, amanah dan menjaga kepercayaan, pengasih dan pemurah, jujur dan adil, menepati janji, serta menghormati adat istiadat anak negeri. Pendeknya, mereka berbudi pekerti yang tinggi dan berakhlak mulia. Semua itu berdasarkan cinta dan taat kepada Allah sesuai dengan didikan dan ajaran Islam.
            Proses penyiaran pendidika Islam ini telah berlangsung lama semenjak abad ke-1 H / ke 7 M, sejalan dengan awal masuknya agama Islam, sehingga muncullah komunitas muslim, yang merupakan perbauran (asimilasi) antara masyarakat pendatang (muslim) yang notabennya adalah para pedagang sekaligus da’i dengan masyarakat local (Samudra Pasai).
            Namun, tampaknya proses penyiaran (pendidikan) Islam tersebut kurang berlaku efektif. Terbukti hampir 5 abad lamanya proses penyiaran pendidikan itu berlangsung, --- antara abad ke-7 hingga awal abad ke-13, tetapi belum menuai hasil yang prestisius dan menggembirakan.
            Atas dasar fakta tersebut diatas, diubahlah metode penyiaran pendidikan tersebut, yakni dengan mengadakan pendekatan secara langsung dengan pimpinan masyarakat / atau kepala suku yang dilakukan oleh Syekh Ismail seorang da’i yang diutus langsung oleh seorang Syarif penguasa makalah. Melalui Merah Silu --- yang kenudian setelah beragama Islan bernama Sultan Malik Al Saleh --- inilah Islam mulai berkembang pesat di Samudra Pasai.
b.      Sistem Pendidikan
Sistem pendidikan yang berlaku pada masa Kerajaan Samudra tentu tidak seperti zaman sekarang ini. Sistem pendidikan yang berlaku pada saat itu lebih bersifat informal, yang berbentuk majlis taklim dan halaqah. Namun demikian, komponen-komponen pendidikan yang ada pada massa Samudra Pasai pada waktu itu, tidak jauh berbeda dengan komponen-komponen pendidikan yang ada sekarang ini. Hanya saja bentuk dan jenisnya masih sederhana. Namun demikian, secara substansial proses pendidikan dapat berjalan dengan sangat baik. Komponen-komponen pendidikan tersebut adalah sebagai berikut:
1.      Pendidik dan peserta didik
Pada saat itu yang menjadi pendidik atau guru adalah mereka para saudagar yang sekaliguus merangkap sebagai da’i yang berasal dari Gujarat dan Timur Tengah. Mereka antara lain adalah Syekh Ismail dan Syekh Sayid Abdul Aziz. Demikian pula para Silltan Kerajaan Samuadra Pasai. Mereka ikut mengajarkan dan mennyebarkakn ajaran Islam kepada segenap rakyatnya.
            Adapun peserta didik pada saat itu adalah tidak terbatas usia, melainkan dari segala usia, yakni mulai dari anak-anak hingga dewasa (usia lanjut). Tidak terbatas pada kalangan tertentu, melainlkan dari berbagai kalangan, mulai dari rakyat biasa / jelata sampai dengan sultan atau raja.
2.      Materi Pendidikan
Materi pendidikan Islam yang pertama kali diberikan pada peserta didik adalah “Dua Kalimah Syahadat”. Ucaapan itu dilakukan meskipun dengan bahasa sendiri. Setelah mereka mengucapkan dua kalimah sahadat yang berarti telah masuk Islam barulah mereka diberikan pelajaran selanjutnnya, yaitu menbaca Al-Qur’an, cara melaksanakan shalat dan pada tingkat yang lebih tinggi. Materi yang diajarkan yaitu, pengajian kitab-kitab fiqh yang bermadzhab imam Syafi’i, seperti: takrb, sulam taufiq, bahkan terdapat pula pengajian yang dilakukan secara berkala pada setiap selesain shalat jum’at berupa pengajian kitab-kitab yang lebih tinggi tingkatannya, yaitu kitab Ihya Ulumuddin, Al Um, dan lain-lain. Materi Al-Qur’an yang diajarkan untuk tingkatan yang sudah bisa membaca huruf Arab adalah berupa pengajian Tafsir Jalalain. Selain materi tersebut, sudah banrang tentu para Syekh mengajarkan tentang Akidah dan Akhlaq.
3.      Tujuan Pendidikan
Dapat disimpulkan bahwa pendidikan pada saat itu adalah belajar untuk menuntut ilmu sehingga dapat memahami, menguasai, dan mengamalkan ajaran islam yang sudah diperoleh dari sang guru. Lebih dari itu, mengembangkan ajaran Islam tanpa pamrih. dengan kata lain, tidak berorientasi pada materi, melainkan berorientasi semata-mata menuntut ilmu karena Allah.
4.      Biaya Pendidikan
Mereka belajar dan mengajar semataimaata akhlas karna ingin mendapat ridha dari Allah swt. Mereka belajar untuk menuntut ilmu. Mereka mengajar untuk meningkatkan dan mengembangkan kalimat Allah. Oleh karna itu, tidak mengharapkan imbalan berupa materi. Kendatipun demikian, masyarakat tentu memahami dan mengerti akan kebutuhan-kebutuhan para Syekh yyang notabennya adalah manusia yang tetap membutuhkan makan dan minum serta tempat untuk berteduh. Oleeh karna itu, secara sukarela masyarakat tentu mengeluarkan berbagai macam hadiah atau pemberian kepada para guru tersebut, terutama dalam bentuk hasil pertanian, jamuan-jamuan dan sebagainya. Yang palling penting lagi adalah bahwa pendidikan pada saat itu dibiayai oleh negara / kerajaan, sehingga masyarakat secara resmi tidak perlu mengeluarkan biaya untuk membayar guru.
5.      Waktu Dan Tempat Belajar
a.       Tempat belajar
Secara umum, pengajar-pengajar Islam dahulu malaksanakan penyaiaran Islam dimana saja nereka berada, dipinggir kali sambil menanti perahu pengangkut barang, di perjamuan di waktu kenduri, dipa dang rumput tempat gembala ternak, di tempat penimbunan barang dagangan, di pasar-pasar tempat berjual beli, dan lain-lain. Disitulah bmereka memberikan didikan dan ajaran Islam dan disanalah orang-orang menerima didikan dan ajaran Islam. Semuanya dilakukan dengan perkataan secara mudah, snehingga mudah pula orang memperoleh dididkan dan ajaran Islam. Adapun secara khusus tempat-tempat pembelajaran dilakukan dirumah-rumah, masjid, surau, rangkang, dan pendopo istana.
b.      Waktu belajar
            Waktu yang digunakan untuk mempelajari atau mengerjakan pendidikan sesungguhnya tidak mengikat. Karna pendidikan dapat berjalan kapan dan dimana saja. Pendidikan dapat berlangsung pagi hari, siang hari, sore hari atau bahkan malam hari. Namun secara khusus terutama yang terjadi dikalangan kesultanan, waktu-waktu belajar dapat dilakukan sebagai berikuut:
1.            Siang hari khususnya setelah shalat jum’at
2.            Sore hari (ba’da ashar)
3.            Malam haru (ba’da magrub / isya) Adapun metode yang digunakan, khususnya dikalangan istana adalah diskusi.[4]

B.     PENDIDIKAN ISLAM PADA MASA KERAJAAN DEMAK
1.      Sejarah Munculnya Kerajaan Demak
Kerajaan Demak adalah kerajaan Islam pertama di Pulau Jawa. Kerajaan ini terletak di Jawa bagian tengah, tepatnya di Kota Demak sekarang, propinsi Jawa Tengah. Kerajaan Demak didirikan oleh Raden Patah sekitar tahun 1500 Masehi. Wilayah Kerajaan Demak kemudian berkembang menjadi kerajaan besar karena letaknya yang sangat strategis, yaitu di dekat pelabuhan dan menghubungkan perdagangan di wilayah timur Nusantara (Maluku dan Makassar) dengan wilayah barat (Malaka).
Selain itu, mundurnya kejayaan Kerajaan Majapahit di Jawa Timur juga mendukung kemajuan perkembangan Kerajaan Demak. Kerajaan Demak merupakan salah satu pusat perkembangan agama Islam di Indonesia, oleh karena itu wilayah ini banyak dikunjungi oleh berbagai lapisan masyarakat untuk belajar agama. Kegiatan ekonomi Kerajaan Demak turut maju berkat mobilitas penduduk antar pulau.
Penyebar agama Islam sekaligus pendukung berdirinya Kerajaan Demak adalah para wali yang dikenal dengan sebutan Wali Songo. Dalam menyebarkan agama Islam tersebut para wali ini sering menggunakan saran kesenian dalam media dakwahnya, sehingga pada jaman Kerajaan Demak kesenian wayang berkembang dengan sangat pesat. Salah satu kesenian tersebut adalah wayang kulit. Kesenian Jawa dipadukan dengan budaya Arab sehingga menghasilkan seni budaya Demak yang unik. Memadukan Budaya Jawa Dan Islam.[5]
Kehidupan sosial masyarakat Demak telah diatur dengan hukum-hukum yang berlaku dalam ajaran agama Islam. Meski demikian, peraturan tersebut tidak begitu saja meninggalkan tradisi lama sehingga muncul sistem kehidupan sosial masyarakat yang telah mendapat pengaruh agama Islam. Karakter agama Islam yang demokratis dan fleksibel memberikan kesempatan bagi rakyat Demak untuk mengembangkan pekerjaan mereka.
Pada awalnya, Kerajaan Demak merupakan daerah kekuasaan Kerajaan Majapahit karena Raden Patah, pendiri Kerajaan Demak, adalah putra dari Raja Brawijaya V dari Majapahit. Setelah Raden Patah wafat, di digantikan oleh Pati Unus yang dikenal dengan sebutan Pangeran Sabrang Lor. Pengganti Pati Unus adalah Sultan Trenggono. Silsilah penguasa Kerajaan Demak bisa kita pelajari melalui makam keluarga kerajaan yang berada di kompleks Masjid Demak.
Sultan Trenggono adalah raja terbesar yang pernah memerintah Kerajaan Demak. Pada masa pemerintahannya, wilayah Demak meliputi seluruh Pulau Jawa, Sumatera bagian Selatan, Kalimantan (Kotawaringin dan Banjar) serta Selat Malaka. Setelah Sultan Trenggono wafat pada tahun 1546 dalam suatu pertempuran di wilayah Pasuruan, Kerajaan Demak mengalami kemunduran. Akhirnya, menantu Sultan Trenggono yang bernama Joko Tingkir berhasil menduduki tahta kerajaan dan memindahkan pusat kerajaan dari Demak ke Pajang.

2.      Pola Pendidikan Islam Masa Kerajaan Demak
a.       Awal penyebaran pendidikan Islam
Pada masa awal penyebaran Islam di wilayah kekuasaan Demak yaitu di akhir abad ke- 15, kondisi masyarakat Jawa pada umumnya sedang dalam keadaan buruk seirirng dengan melemahnya situsi-politikdan ekonomi kerajaan-kerajaan yang berkuasa saat itu. Kekuasaan Majapahit yang menguasai Jawa sudah diambang kehancuran ketika penyebaran Islam mulai tumbuh. Kehidupan masyarakat juga sangat terpengaruh oleh imbas krisis ekonomi yang dialami kerajaan.
Akhir abad ke-15 memang disebut-sebut sebagai masa akhir kekuasaan Majapahit. Pada masa sulit ini, pengaruh kerajaan sudah melemah. Pelaksanaan ritual keagamaan (Hindu) pun sudah semakin jarang dilaksanakan oleh rakyat biasa. Seraya dengan ini, para pedagang Islam dan guru-guru agama berdatangan dari berbagai daerah. Pendidikan Islam mulai memainkan perannya. Mula-mula pendidikan Islam disampaikan oleh para saudagar kepada orang-orang terdekat mereka. Sementara guru-guru membentuk kelompok pengajiannya di tempatnya masing-masing.
Pada masa awal perkembangan ini yang menjadi murid pun masih terbatas pada golongan menengah, kaum pedagang, dan para buruh di Bandar-bandar. Mereka sangat tertarik dengan Islam karena ajarannya yang tidak mengakui adanya perbedaan keturunan, golongan, dan suku antar para pemeluknya. Sama rata yang diajarkan islam itu bagi kaum pedagang dapat menciptakan tata tertetib dan keamanan seraya menonjolkan kerukunan kaum muslim. Masyarakat Islam pun cepat terbentuk dan masjid sebagai sarana vital keagamaan mulai didirikan dipusat-pusat kota atas dukungan masyarakat.
Pada awal perkembangannya, pendidikan Islam bisa dikatakan berlangsung secara spontan. Namun, ditengah proses pendidikan yang spontanitas ini usaha intensifikasi pendidikan sudah dirintis. Adalah sunsn Ampel (w. 1481 M) yang merintis corak pendidikan Islam yang dilaksanakan secara intensif. Ia mendirikan sebuah perguruan berupa pesantren yang dibangun di Ampel Denta, Surabaya untuk menampung para murid yang secara intensif dididik agar menguasai ilmu agama Islam dan kelak bias menjadi seorang guru agama di daerahny masing-masing.
b.      Masa Perkembangan
1.      Tokoh Pendidikan
Seluruh wali songo merupakan tokoh-tokoh pendidikan kerajaan Demak. Selain mereka saling mendidik antara satudan lainnya, mereka juga memiliki tugas menyebarkan pendidikan islam ke berbagai daerah. Penyebaran pendidikan islam yang dilakukan wali songo menjangkau seluruh wilayah Jawa mulai dari Jawa Barat, Tengah, sampai Timur.
Keterpaduan pihak kerajaan dengan para wali dalam pendidikan Islam selama kurun waktu setengah abad ini, telah mampu mengislamkan Jawa. Islamisasi Jawa ini lebih gencar lagi dan lebih terencana dilakukan oleh Sultan Trenggana karena ia sendiri telah memiliki cita-cita ingin mengislamkan seluruh Jawa. Ia pun membagi tugas kepada para wali untuk menempati daerah-daerah tertentu dan memberikan pendidikan Islam kepada masyarakat di tempat itu.
Selain wali sembilan, terdapat juga seorang wali yang juga berperan dalam pendidikan islam, yaitu Syeikh Siti Jenar atau dikenal dengan Syekh Lemah Abang. Ia adalah tokoh controversial karena mengajarkan ajaran-ajaran yang berbeda dengan para wali. Ajaran yang ia pahami dikenal dengan sebutan manunggaling kawula gusti. (dalam terminology tasawuf disebut ittihad) yang artinya bersatunya tubuh hamba (manusia) dengan tuhan.
Selain para wali sebagai tokoh sentralnya, orang-orang asing (luar jawa, diantaranya dari Mekkah) beragama islam yang datang ke pesisir Jawa juga telah membantu penyebaran pendidikan islam. Mereka datang dan tinggal di dekat masjid yang telah di bangun. Mereka mengajarkan ilmu agama islam kepada masyarakat yang makin lama makin memperkuat keagamaan mereka.
2.      Sarana Pendidikan
Dalam melakukan tugas pendidikan islam kepada masyarakat, para wali menggunakan masjid sebagai sarana pengembangan pendidikan islam. Masjidn Agung Demak adalah Masjid tertua di pulau Jawa yang menjadi pusat dan lambing kerajaan. Selain sebagai tempat ibadah, masjid Agung Demak juga digunakan sebagai pusat bertukar pendidikan Islam.
Di Demak pendidikan agama di adakan di masjid-masjid umum selain di masjid Agung. Masjid-masjid ini di pimpin oleh seorang Badal yang di tugaskan kerajaan. Badal kemudian digelari Kyai Ageng yang bertugas menjadi seorang guru. Pendidikan agama yang di laksanakan di masjid-masjid diperuntukkan bagi masyarakat umum, sementara keluarga kerajaan belajar agama secara langsung dari wali-wali yang digelari sunan baik di istana maupun di rumah para wali itu.
Bagi para pencari ilmu yang ingin mempelajari ajaran islam secara intensif, didirikan pesantren-pesantren yang di kelola oleh para wali atau guru-guru agama. Pesantren pada saat itu merupakan tempat pendidikan agama yang di huni khusus oleh kelmpok-kelompok masyarakat yang terpisah dari kelompok lainnya. Pesantren-pesantren didirikan dilokasi terpisah dari kelompok lainnya. Pesantren-pesantren didirikan dilokasi tertentu yang khusus di peruntukan untuk perguruan agama, dan tak jarang jauh di pegunungan.[6]






BAB III
PENUTUP
KESIMPULAN

Dari uraian Bab II dapat penulis simpulkan bahwa :
·         Metode pendidikan islam pada masa kerajaan samudera pasai yaitu mengadakan pendekatan secara langsung dengan pimpinan masyarakat / atau kepala suku yang dilakukan oleh Syekh Ismail seorang da’i yang diutus langsung oleh seorang Syarif penguasa makalah. Melalui Merah Silu --- yang kenudian setelah beragama Islan bernama Sultan Malik Al Saleh --- inilah Islam mulai berkembang pesat di Samudra Pasai.
·         Di Demak pendidikan agama di adakan di masjid-masjid umum selain di masjid Agung. Masjid-masjid ini di pimpin oleh seorang Badal yang di tugaskan kerajaan. Badal kemudian digelari Kyai Ageng yang bertugas menjadi seorang guru. Pendidikan agama yang di laksanakan di masjid-masjid diperuntukkan bagi masyarakat umum, sementara keluarga kerajaan belajar agama secara langsung dari wali-wali yang digelari sunan baik di istana maupun di rumah para wali itu.










DAFTAR PUSTAKA



 http://el-syahadu.blogspot.com/Diakses Pada Tanggal 5 Maret 2013